1. Sampore’Sampore dilakukan dalam kehidupan sesorang yang berhubungan dengan rehablitasi hubungan yang pernah cacat. Sampore dilakukan dalam acara lenggang, liatn, dendo, bapipis, batampukng tawar, dan babuis (karena badi atau jukat)/ dan bisanya sampore dilakukan oleh para dukun
2. Lala’Lala’ adalah pantangan bagi masyarakat Dayak Kanayatn dalam melakukan sesuatu baik itu pantang makan, melakukan sesuatu, dan mengucapkan kata - kata. Masa pantang bisa tiga hari, tujuh hari, 44 hari, dan seumur hidup diatur dalam tradisi masyarakat setempat. Tujuan lala’ adalah agar setiap anggota masyarakat terhindar dari bahaya, kekuatan meningkat, atau terkabulnya niat dalam pekerjaan.
3. Tanung.
Tanung merupakan tradisi masyarakat dalam menentukan jenis kegiatan misalnya membangun rumah, menetapkan mototn, mancari jalan terbaik dalam situasi gawat/perang. Upacara batanung akan memberikam suatu keyakinan tentang jenis kegiatan yang dapat dilakukan kemudian. Jenis tanung adalah tang ai’, tanung tali, tanung karake’, tanung sarakng pinang, dan tanung dapa’ layakng.
4. Baremah
Baremah adalah permohonan penutup atau ucapan syukur atas hasil pekerjaan, seperti pada baroah, babalak, muang rasi, bapipis, basingangi (niat). Kegiatan ini lebih bersifat pribadi atau bagian upacara keluarga.
5. Renyah
Renyah adalah bahasa dayak kanayatn dalam menyebutkan lagu atau nyanyian. Isi nyanyian berupa pantun yang sangat digemari oleh seluruh lapisan masyarakat dalam berkasih sayang, saling sindir, atau oleh orang tua menyampaikan pesan kepada anaknya. Renyah biasanya dilakukan pada saat ke mototn atau ke hutan.
6. Bacece’Bacece adalah berunding di antara para tokoh, sanak keluarga, dan kerabat sekampung mengenai budi, hutang, atau hal lainnya dari orang tua/kepala keluarga/tokoh adat/tokoh masyarakat yang sudah meninggal dunia. Perundingan yang dipimpin oleh pemuka adat biasanya menghasilkan kesepakatan mengenai kejelasan dan tindakan yang dapat diambil bilamana perlu. Tujuannya agar arwah orang yang meninggal dapat lebih baik dan aman di surga, dan keluarga yang ditinggalkan dapat lebih tenang dan rukun.
7. Pangka’
Upacara adat pangka adalah upacara adat untuk memperingati Ne’ Baruakng Kulup merunkan padi ke dunia.Upacara ini biasanya dilakukan sebelum patahunan (masa ba mototn). Sebelum Upacara adat yang dipimpin oleh temenggung ini dilaksanakan , terlebih dahulu melakukan sembahyang bersama di panyugu setelah itu pangka’ gasing dimulai.
8. Mura’atn
Muraa’atn adalah berdoa agar sesorang tidak ditimpa mala petaka. Tradisi ini sifatnya pribadi perorangan.
Tradisi Dalam Adat Suku Dayak Kanayatn (2)
Dalam kebudayaan suku dayak terdapat banyak tradisi yang dilakukan seperti halnya suku-suku lain, salah satu tradisi khas suku dayak misalnya 'Ngayo'/Ngayau (tradisi mencari kepala manusia, dengan membunuh orangnya dan mengambil kepalanya sebagai kebanggaan bagi orang yang mendapatkannya, dan ini biasanya terjadi antar kelompok suku dayak), 'Naik dango' (upacara sukuran panen dari orang dayak) dll. salah satu tradisi yang jarang di ekspose orang adalah tradisi mengenai cerita, nyanyian dll, yang dikenal dengan tradisi lisan, tradisi yang berupa ucapan-ucapan lisan saja tidak ada arsip tertulis dalam suku dayak, namun di ajarkan dari generasi ke generasi segara lisan. berikut berbagai bentuk tradisi lisan:
Kelompok cerita:
1. Singara
Singara adalah cerita rakyat biasa yang berhubungan dengan situasi kehidupan di masyarakat. Cerita itu berupa cerita jenaka, cerita pelipulara, cerita binatang, dan cerita kasih sayang. Cerita jenaka misalnya cerita tentang Pak Ali-ali yang sangat kocak membuat tawa bagi yang mendengarkannya.Berikut ini contoh cerita Pa Ali-ali sedang mencari ikan sungai dengan bubu.
"Dimusim hujan ketika air sedang pasang, Pak ali-ali yang pemalas disuruh istrinya mencari ikan dengan menggunakan bubu. Awalnya Dia merasa enggan, tapi karena istrinya sering merengek-rengek akhirnya pak Ali-ali mengikuti keinginan istrinya. Malam ia mulai memasang bubu. Pagi harinya ketika diangkat, tak satupun ikan yang ia peroleh. Ia pun membawa bubunya kerumah dan melaporkannya ke pada istrinya. Istrinya marah-marah dan berkata : " Dasar bodoooh kao Pak ali-ali, seko’ saluakng buta’ pun kao na’ namu. Dah…..kao gago’ agi ikatn ka’ sunge" Sambil menghukum Pak Ali-ali tidak diberi makan. Terpukul oleh kata-kata istrinya "sekok saluakng buta’ pun na’ namu" akhirnya ia pun pasang bubu lagi. Kali ini ia dapat ikan penuh satu bubu. Tapi begitu dicek satu persatu tidak satu seluangpun yang buta. Akhirnya semua ikan seluang dan ikan yang lain dilepaskannya lagi ke sungai. Iapun pulang dan melaporkan bahwa ikan yang didapatnya sudah dibuang ke’ sungai semua, karena tidak ada yang buta".
2. Gesah/Curita
Gesah adalah cerita yang berhubungan dengan kepercayaan atau agama lama suku Dayak, sosok kepahlawanan, asal usul benda/ kehidupan manusia. Contoh gesah misalnya tentang Ne’ Baruakng Kulup dengan asal usul padi turun ke dunia. Gesah Ria Sinir yang terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya. Gesah Pak Kasih yang berjuang merebut kemerdekaan.
3. Osolatn.
Osolath adalah kisah asal usul keturunan suatu suku, atau keluarga. Contoh Osolatn dapat dilihat pada asal usul kehidupan manusia di bumi menurut kepercayaan Dayak Kanayatn.
"Pada mulanya, pada perkawinan kosmis di Pusat Ai’ Pauh Janggi kemudian tercipta Kulikng Langit dua Putar Tanah (Kubah langit dan Kubah bumi), yaitu Sino Nyandong dan Sino Nyoba memperanakan Si Nyati Anak Balo Bulatn Tapancar Anak Mataari (Nyati Putri Bulan dan Putra Matahari). Memperanakan Iro-iro man Angin-angin ( Kacau Balau dan Badai), memperanakan Uang-uang man Gantong Tali (udara mengawang dan Embun menggantung), memperanakan Tukang Nange man Malaekat (Pandai Besi dan Bidadari), memperanakan Sumarakng Ai’ man Sumarakng Sunge (segala air dan segala sungai), memperanakan Tunggur Batukng man Mara Puhutn (Bambu dan Pepohonan) memperanakan Antuyut man Marujut (Akar-akaran dan Umbi-umbian) memperanakan Popo’ man Rusuk (Kesejukan Lumpur dan Tulang Iga).
Kesejukan Lumpur adalah perempuan dan tulang iga adalah laki-laki. Selanjutnya Popo’ man Rusuk Memperanakan Anteber dan Guleber. Anteber dan Guleber inilah yang dipercaya sebagai nenek moyang Dayak Kanayatn. Setelah menjadi manusia, selanjutnya, Anterber dan Guleber melahirkan anak-anaknya dan kemudian dalam waktu cukup lama melahirkan anak cucu, sehingga dengan demikian, semakin banyaklah anak manusia di bumi".
4. Batimang
Batimang adalah kegiatan yang bersifat hiburan atau pelipur hati atau bujukan oleh para orang tua untuk anak-anak. Batimang dilakukan pada saat senggang atau saat mau tidur. Batimang dapat dilakukan pada ungkapan pepatah, pantun atau lagu. Berikut ini contoh pepatah:
1)Abeh gi ka’ bahu, lajak udah bajalatn. Maksudnya Ia masih merencanakan sesuatu tapi rencananya sudah disebarluaskan.
2) Jantek siku siku tulakng takar. Maksudnya Perbuatan yang serba salah.
5. Pantutn
Pantutn atau pantun merupakan cerita yang berisi nasihat, peringatan, dan kasih sayang. Pantun terdiri dari empat baris bersajak ab-ab, dua baris sampiran dan dua baris isi. Sampirannya menarik karena kata-katanya berasal dari lingkungan kehidupan. Pantun banyak dipraktekkan dalam kesenian jonggan, berkomunikasi di mototn dan menoreh getah. Tokoh pantun yang terkenal media elektronik yang berasal dari Desa Rees adalah Pak Namben dijuluki si raja Pantun.
6. Sungkaatn
Sungkaatn adalah Cerita dalam bentuk perumpamaan/pepatah disebut dengan sungkaatn. Perumpamaan atau pepatah yang dikaitkan dengan lingkungan sekitar tentang peringatan,penjelasan atau nasehat. Biasanya kata - kata yang digunakan adalah bahasa formal adat. Berikut ini adalah contoh sungkaatn.1. Saenek-enek udas, paling ina’ tupe jejek ka’ dalapmnya. Maksudnya pada sebuah komunitas paling tidak satu orang menjadi pemimpinnya.2. Suka mani’ ka’ Daya maksudnya sesorang yang selalu mengaku dirinya lebih hebat dari yang lain. Kebalikan dari pepatah ini adalah Suka mani ka’ ilir yang maknanya seseorang selalu merendahkan dirinya meskipun ia sesorang pemimpin.
7. Salong
Salong adalah cerita dalam bentuk sindiran atau ejekan terhadap suatu kebiasaan, atau perilaku yang kurang baik di masyarakat. Salong berusaha memperbaiki Sifat,perilaku, dan perbuatan yang tidak sesuai dengan adat atau kebiasaan yang berlaku umum. Contoh salong adalah sebagai berikut :1). Sayang istri, dipukulSayang ke anak di tinggalkan ; maksudnya bekerja keraslah mencari nafkah untuk anak istri.2). Ujatna’ abut koa ; maksudnya salong untuk anak yang menangis.3). Angus padakng dinunu ; maksudnya kebohongan yang disampaikan dipercaya pendengar.4). Katungo ka’ jauh katele’atn, Babotn ka’ samaknya nana’ ia tele’’ : Maksudnya kesalahan orang orang dibesar-besarkan, kesalahan sendiri ditutupi.
Tradisi Dalam Adat Suku Dayak Kanayant (1)
Suku Dayak merupakan penduduk asli Kalimantan dan merupakan suku yang pertama kalinya mendiami pulau ini. Menurut penelitian para ahli arkeologi dan antropologi, nenek moyang suku dayak berasal dari dataran Yunan ( Daerah di Cina bagian selatan ) yang bermigrasi menuju kepulauan Nusantara dengan menggunakan perahu bercadik. Migrasi ini terjadi dalam 2 gelombang. Bangsa bangsa yang bermigrasi dalam gelombang pertama disebut Proto Melayu, sedangkan yang bermigrasi pada gelombang ke 2 disebut Deutero Melayu.
Nenek Moyang suku Dayak sendiri tergolong dalam jajaran bangsa Proto Melayu yang telah menginjakkan kaki di Nusantara sekitar ± 1500 SM. Dalam budayanya Nenek Moyang suku Dayak membawa kebudayaan Neolitik ( batu Baru ). Selain suku Dayak , suku lain di Nusantara yang juga tergolong proto melayu adalah Toraja, Batak Karo, dan Sasak (Lombok).
Dalam kepercayaan Dayak Kanayatn, orang orang tua pada umumnya mengenal gesah ( legenda / mitos, cerita lisan tentang asal usul ). Salah satu gesah dalam masyarakat Dayak Kanayatn adalah cerita mengenai asal usul dayak Kanayatn. Berikut adalah kutipan gesah asal usul Dayak Kanayatn yang dituturkan di daerah Binua Kaca’, Menjalin ( terjemahan ) :
“Konon asal usul orang dayak itu bersal dari binua aya’. Mereka datang ke Kalimantan dengan sejenis rakit yang terbuat dari buluh Munti’. Sebelum berangkat, Ne’ Galeber berdoa pada Jubata ( Tuhan ) Supaya rakit mereka dapat bergerak sendiri dan sampai di tempat yang patut dihuni. Maka bertiuplah angin kencang, membawa rombongan melintasi ribuan pulau dan akhirnya tiba di Kalimantan, tepatnya di pesisir ketapan. Daerah tersebut mereka namai ‘sikulanting’ ( lanting = rakit ).
Selanjutnya Ne’ Galeber dan rombongannya bergerak menuju pedalaman. Rombongan berhenti sejenak di sebuah tempat. Malam harinya Ne’ Anteber ( Istri Ne’ Galeber ) terbangun duluan. Lalu dia bangunkan suaminya memakai sikutnya. Ketika di sikut, Ne’ Galeber berkata ‘Dono’…’. Maka tempat itu dinamai sikudana ( siku’ dan dono’). Tiga hari rombongan berada di tempat itu. Setelah itu mereka beranjak menuju gunung Bawakng setelah diberi mimpi oleh Jubata. Tetapi ada beberapa anggota rombongan yang memilih menetap. Dua keluarga ini pun akhirnya menjadi nenek moyang suku dayak di derah Krio, Sandai, Semandang, Laur, dan Ulu’ Air.
Singkat Cerita, akhirnya rombongan tiba di daerah gunung bawakng. Setelah beberapa generasi, Jubata kembali mewahyukan adat istiadat dan tradisi sebagai penyempurnya tradisi yang telah ada sebelumnya. Dalam keturunan Ne’ Galeber, ada seseorang bernama Ne’ Unte’. Saat Ia sedang berburu di hutan, Jubata memberinya tujuh butir beras. Ne’ Unte’ tidak paham maksud dari tujuh butir beras itu. Beberapa hari kemudian, Jubata menyuruhnya menyepi dengan tujuh orang kerabatnya. Di tempat mereka menyepi, Jubata memberitahukan makna ketujuh butir beras tadi dan mewahyukan adat : Bauma batahutn ( berladang ), Balaki Babini ( Pernikahan ), Baranak ( melahirkan ), Nu’ diri’ man Parene’atn ( Hak Pribadi dan bersama ), Babalak ( Bersunat ), Karusakatn ( kematian ), dll yang terus dipakai sampai saat ini……..”
Dalam gesah tadi orang orang tua mengatakan kalau Nenek Moyang Dayak Kanayatn berasal dari binua aya’. Mungkin Binua Aya’ tadi adalah dataran Yunan menurut para ahli.
Oleh Rio Van Ontjed
Asal Usul Dayak Menurut Mitologi Dayak Kanayatn
![]() |
| Ilustrasi |
Suatu ketika di betang itu dilaksanakan upacara balian. Upacara ini dilakukan untuk melaksanakan pengobatan pada salah seorang warga betang itu yang sakit keras. Di tengah betang dibuat sebuah sangkai puca.
Sangkai puca ini bahannya dari berbagai dahan kayu yang masih lengkap, dengan daunnya, diikat tegak seperti pohon kayu. Dahan kayu yang digunakan adalah pohon beringin karena lambat layu daunnya lagi pula rimbun serta serasi.
Setiap malam ramai orang makan minum dan menari serta menyanyi karungut. Namun Tombong dan istrinya yang tinggal dalam kamar yang paling ujung tidak pernah mau keluar dan ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Pada suatu hari pagi-pagi sekali Tombong sudah pergi untuk berburu. Kepada istrinya Tombong berkata : “ Ingei sepeninggalku pergi ini jangan sekali-kali kamu keluar dari kamar. Tidak usah kamu ikut biar hanya melihat upacara itu.” Pesan ini diucapkan Tombong karena seorang pencemburu. Memang Ingei seorang wanita yang cukup rupawan.
Sepeninggal Tombong Ingei sangat penasaran. Di luar kamarnya terdengar sorak sorai penuh kegembiraan. Gong dan gendang bertalu-talu. Laki-laki perempuan, tua muda ramai manasai mengelilingi sangkai puca.
Pikir Ingei dalam hatinya : “ Aku mengira tak apalah jika aku melihat keramaian itu.” Ia hanya berniat untuk menonton sebentar saja dan sementara menunggu Tombong pulang.
Ternyata Ingei lupa pulang kembali ke kamarnya , saking asyiknya menonton orang yang manasai itu. Ia tak tahu kalau Tombong cepat pulang dengan hasil buruannya seekor Kalasi.
Tombong sangat marah ketika mengetahui istrinya tidak berada di dalam kamar mereka. Ia menduga sudah pasti istrinya menonton upacara balian itu.
Dengan jengkel Tombong memberi pakaian bangkai kalasi itu. Dipakaikannya Cawat , baju sangkarut dan kopiah sampahangang. Tombong lalu mengendong bangkai kalasi itu menuju ke tengah betang, Saat ramainya orang manasai. Semua orang heran melihat kelakuannya itu, tapi tidak ada seorangpun berani menyapanya.
Dilihatnya istrinya duduk diantara orang banyak dengan bengong tanpa berani membuka mulut. Bangkai kalasi itu dilemparkannya ke atas sangkai puca, lalu ia kembali ke kamarnya.
Orang banyak heran, bangkai kalasi itu hidup kembali dan memanjat naik ke atas puncak sangkai puca. Orangpun ribut menyaksikan kejadian itu. Sebagian ingin membunuhnya dan mulai mengepungnya.
Tiba-tiba hari yang cerah berubah menjadi gelap pekat. Angin bertiup kencang , kilat dan petir menyambar-nyambar. Betang itu beserta seluruh penghuninya berubah menjadi sebuah gundukan batu besar. Hanya Ingei yang masih hidup, tetapi ia terkurung dalam batu itu. Kelihatan batu itu seperti kamar, tanpa pintu dan hanya ada sebuah lubang kecil sebesar lengan.
Beberapa tahun berlalu setelah peristiwa itu. Jika terdengar ada suara orang melewati tempat itu Ingei lalu mengulurkan tangannya meminta makanan. Kadang kala ia bersedia menjahit pakaian orang – orang yang menolongnya asal menyediakan kainnya sendiri, benang dan jarumnya. Jahitan tangannya Ingei sangat halus dan rapi. Beberapa kali orang telah mencoba untuk membantunya keluar dari lobang itu. Mereka memahat lubang kecil itu memperbesarnya agar Ingei dapat keluar.
Tapi mereka keheranan batu itu bagai bernyawa. Setiap tercongkel sebuah bongkahan sebesar itu pula bergerak menutupi bagian yang telah tercongkel tadi. Begitulah keadaannya hingga lubang seperti besarnya semula. Seorang yang penasaran saking jengkelnya lalu menusuk Ingei denga sepotong kayu.
Sejak saat itu tidak pernah lagi terlihat lengan Ingei keluar. Ia takut memperlihatkan dirinya dan tak mau lagi berhubungan dengan orang lain. Apakah ia terluka dan meninggal dunia tak seorangpun yang mengetahuinya .
Sejak saat itu gundukan bukit batu itu lalu dinamakan orang “ Batu Lowang Ingei “. Artinya batu lubang Ingei. Letaknya dihilir desa Tumbang Jala, termasuk wilayah Kecamatan Sanaman Mantikei Kabupaten Kotawaringin Timur.
Kembali pada Tombong suami Ingei , ketika hari telah menjadi gelap ia pergi berkayuh ke seberang sungai lalu berlari ke dalam rimba. Petir menyambar mengikutinya berlari tanpa tujuan mencari tempat berlindung.
Akhirnya ia sampai ke tepi sungai Baraoi anak dari sungai Samba. Ketika ia melompati sungai itu dengan maksud menyeberanginya pada saat itu pula petir menyambar tubuhnya yang langsung berubah menjadi batu. Lalu jatuh di tengah sungai itu. Batu itulah yang disebut orang Batu Tombong. Yang terdapat dekat desa Tumbang Baraoi sekarang ini. Demikianlah cerita Batui Lowang Ingei.
sumber : www.aldrian076.blogspot.com
http://www.ceritadayak.com/2010/03/batu-lowang-ingei.html
Batu Lowang Ingei
![]() |
| Ilustrasi: Gunung Meratus |
TAK ada gambaran jelas yang pasti tentang berapa panjang dan banyaknya gunung tersebut. Adapun yang digambarkan sementara ini sebagian besar diperkirakan hanyalah reka-reka yang tak pasti – baik soal jumlah gunung maupun ukuran panjangnya. Buku “Di Pedalaman Borneo“ yang ditulis oleh A.W. Nieuwenhuis pada tahun 1894 pun bahkan tidak menyebutkan hal itu.
Diketahui, A.W. Nieuwenhuis warga Belanda seorang dokter yang juga sebagai ahli etnografi dan antropologi, didukung oleh Maatschappij ter Bevondering Van Het Natuurkundig Onderzoek der Nederlandsche Kolonien (Perhimpunan untuk memajukan penelitian di daerah daerah koloni Belanda) – membentuk tiga tim yang terdiri dari para ahli ilmu pemetaan, penggalian suber alam, penelitian tentang penduduk pedalaman, serta flora dan fauna. Tim ini melakukan perjalanan dari Kalimantan Barat dengan menyusuri Sungai Kapuas hingga ke kepala Sungai Mahakam dan berakhir sampai ke Samarinda Kalimantan Timur. Ekpedisi ini pun tak ada penjelasan tentang luas dan panjangnya Gunung Meratus. Padahal mereka sudah memulai perjalanan dari Sungai Kapuas Pontianak Kalimantan Barat.
Perjalanan tersebut, selain didukung oleh oleh Maatschappij ter Bevodering van het Natuurkundig Onderzoe der Nederlansche Kolonien, juga diback-up oleh Residen Water Afdeeling van Borneo yang berkedudukan di Pontianak Kalimantan Barat. Hal ini didorong oleh banyaknya minat negara lain yang mengirim utusan ke pulau Borneo untuk melakukan penelitian sekaligus berusaha melakukan pendudukan. Seperti halnya pada abad ke 18, ketika Inggris dan Belanda melakukan kekerasan dan intimidasi pada penduduk di kepulauan Borneo. Diantaranya, petualangan Alexander Hare di Banjarmasin pada tahun 1812, James Brooke dan Robert Burns tahun 1848 di Sarawak yang berupaya mendirikan kerajaan bagi dirinya sendiri, James Erskine Murray si orang Inggris memasuki Kutai pada tahun 1844 yang berujung tewas karena berperang dengan laskar Kerajaan Kutai, Selanjutnya Muller 1825 dan Dalton 1828 yang menjelajahi Borneo atas nama Negara Belanda.
Adalah seorang perwira Zei dari tentara Napoleon I, bernama George Muller, masuk dalam Pamongpraja Hindia Belanda. Muller mendapat tugas melakukan hubungan dengan pihak Sultan Sultan di pesisir Borneo pada tahun 1825. Muller berangkat bersama pasukan yang terdiri dari orang-orang Jawa. Misi utamanya, jika Sultan Sultan yang didatanginya tidak sejalan, maka kasultanan ini akan diperangi dan dihancurkannya hingga dapat diduduki.
Namun, Kerajaan Kutai tak membiarkan keadaan yang mengancam itu. Akibatnya, terjadilah pertempuran sehingga pasukan George Muller hancur tercerai-berai dan berlarian memasuki hutan. Tercatat, serdadu Jawa yang selamat mencapat bagian barat Borneo hanyalah tinggal satu orang, sedang nasip Muller sendiri dan sisa pasukan belum diketahui.
Ada kabar, George Muller bersama pengikutnya terbunuh di daerah Kapuas Hulu sekitar Nopember 1825, tepatnya di sungai Bungan. Tapi, cerita tersebut hanya perkiraan yang tak jelas kebenarannya. Yang pasti, Muller hingga kini tak pernah ditemukan.
Ada pula cerita lain tentang pelarian Muller yang dikejar laskar Kesultanan Kutai. Dikatakan, karena kalah Muller berlari hingga ke Gunung Meratus dan menghilang di sana. Katanya Muller dilindungi oleh pasukan kerajaan orang gaib yang berada di pegunungan Meratus tersebut.
Cerita tentang Gunung Meratus juga diungkapkan oleh penduduk tua Suku Bukit Kalimantan Selatan Bernama Amung Tahe. Pria yang telah tinggal turun-menurun di dusun Rangit - kaki gunung Meratus menceritakan pengalaman hidupnya, ketika bertualang menjelajahi Gunung Meratus. Dusun Rangit sendiri adalah sebuah dusun yang bisa ditempuh dari daerah pedalaman Kabupaten Paser. Namun tidak diketahui pasti, dusun ini termasuk di dalam kecamatan atau kabupaten mana. Tetapi didalam peta wilayahnya termasuk kawasan Provinsi Kalimantan Selatan.
Bagi masarakat Suku Bukit sendiri, mereka tak mengerti tentang dusun tempat tinggalnya apakah termasuk di daerah Kalsel, Kaltim atau pula Kalteng. Bagi mereka hal itu bukanlah persoalan. Yang jelas mereka bisa saja ada di mana-mana. Bagi mereka, hutan adalah rumah dan kehidupan mereka.
Secara umum, masyarakat suku Bukit berdiam di belantara seputar kedua sisi Gunung Meratus. Dikatakan Amung Tahe, gunung di sana memang berjumlah seratus gunung. Namun yang dapat dihitung gunungnya hanya ada sembilan puluh sembilan buah. Lalu yang satu gunung itu merupakan induk dan puncak tertinggi yang jarang dapat dilihat secara kasat mata.
Dari kaki gunung menuju ke puncak itu bertingkat tujuhbelas naik dan tujuhbelas turun. Menurut penuturan Amung Tahe, di puncak tertinggi itu adalah merupakan suatu tempat kediaman Maharaja Meratus yang tak bisa dilihat atau gaib. Terkecuali jika dikehendaki oleh sang Maharaja.
Konon, di atas puncak gunung tersebut merupakan dataran yang cukup luas. Di dataran ini ada sebuah bangunan istana tempat sang Maharaja bersemayam. Kerajaan gaib di Gunung Meratus ini tidak hanya sendiri, tetapi ada lagi kerajaan-kerajaan kecil diseputarnya, yang juga disebut kerajaan orang-orang gaib (bunian).
Di kawasan pegunungan ini sangat kaya dengan hasil hutan dan alam. Pernah ada seseorang, ketika berjalan di anak sungai yang terdapat di sana menemukan batu berlian dan bongkahan-bongkahan emas pada dinding kerang batu di pinggiran sungai.
Orang-orang gaib dari pegunungan Meratus sering turun ke berbagai kota, baik di Kalsel, Kalteng maupun Kaltim. Kebanyakan mereka menyaru seperti orang-orang suku Bukit berdagang kayu gaharu yang berkwalitas tinggi serta membawa bongkahan-bongkahan batu kecubung dan yakut yang masih mentah. Barang barang ini mereka jual atau barter dengan tembakau, garam, minyak wangi-wangian, bahkan butir-butiran manik dan mutiara.
Amung Tahe juga bercerita, kalau almarhum bapaknya yang sering bertualang memasuki daerah gunung Meratus, mengaku pernah bertemu dengan orang tinggi besar berambut coklat kemerahan dengan pakaian seperti orang barat (Belanda tempo doeloe_Red) dikawal oleh beberapa orang berseragam. Tetapi ketika diikuti orang-orang tersebut tiba-tiba menghilang tak diketahui ke mana.
Menurut cerita masyarakat yang tinggal di daerah sepanjang Meratus ini mereka juga sering melihat orang Belanda dengan berpakaian tempo doeloe berjalan disertai beberapa orang berseragam lengkap dengan bedil dan pedang. Namun apabila dikejar, maka apa yang mereka lihat itu menghilang begitu saja.
Konon, dari wajah dan pakaian serta tanda-tanda yang terdapat pada si orang Belanda ini cirri-cirinya sama dengan Kapten George Muller yang hilang tak tentu rimbanya itu. Kalau benar, yang dilihat itu adalah George Muller, tentunya sudah menjadi orang gaib. Ada juga yang mengatakan kalau rohnya masih penasaran dan bergentayangan di sepanjang gunung Meratus karena tewas dibunuh. Bisa juga ia tewas karena dibantai oleh masyarakat liar di pedalaman yang saat itu masih primitif.
Namun yang jelas, apa yang terjadi di sepanjang Gunung Meratus, hingga kini masih penuh dengan misteri.(habis)
http://www.ceritadayak.com/2010/08/misteri-gunung-meratus.html
Misteri Gunung Meratus
Legenda ini, diperkirakan terjadi sekitar seratusan tahun lalu. Seorang nenek renta dalam masyarakat Dayak Punan, Kalimantan Timur, tiba-tiba berubah menjadi kodok, dan hingga sekarang keturunan generasi kedua hidup di tengah-tengah masyarakat.Wakil Ketua Persekutuan Lembaga Adat Dayak Punan Kaltim, Dollop Mamung (54) sangat yakin legenda itu bukan isapan jempol. Selain dirinya berasal dari suku Dayak Punan, Dollop juga kenal baik dengan satu dari antara cucu sang nenek yang menuturkan kisah itu.
“Impian saya yang belum terwujud yakni mengunjungi hutan rimba yang menjadi lokasi nenek tua itu berubah menjadi kodok,” tutur Dollop dalam perbincangan Tribun, Kamis (11/3/2010), di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).
Dollop merupakan delegasi masyarakat adat, yang baru usai mengikuti sebuah workshop kehutanan di Kota Pontianak, Kalbar. Legenda yang lekat dalam budaya masyarakat Punan itu erat kaitannya dengan keraifan tradisi menjaga kelestarian hutan.
“Waktu itu, sekelompok keluarga hidup di sekitar hutan Marut. Mereka tidak berladang, tetapi hidup secara mubut. Artinya, hidup berpindah-pindah untuk berburu dan meramu,” ucap Dollop memulai kisahnya.
Dalam kelompok kecil orang-orang Punan itu, ada seorang nenek renta atau adu’ oroh dalam bahasa lokal. Saking rentanya, setiap kali kelompok itu berpindah tempat, adu’ oroh digendong di punggung menggunakan kalong.
Kalong merupakan alat semacam keranjang terbuat dari rotan, yang digunakan sebagai wadah hasil meramu. Suatu hari, adu’ oroh meminta dirinya ditinggalkan saja di sebuah pondok.
“Adu’ oroh kasihan dengan anak-cucunya yang kerepotan harus selalu menggendong dia. Tentu saja keluarganya menolak, tapi dia terus mendesak,” kata Dollop.
Dengan terpaksa, anak-cucunya meninggalkan nenek itu di sebuah pondok. Tetapi, mereka selalu menjenguknya setiap usai mubut. “Tiga hari kemudian, ketika dijenguk, adu’ oroh masih ada di pondok itu. Sepekan dan dua pekan, juga masih ada. Nah sebulan kemudian, tiba-tiba saja adu’ oroh lenyap,” kata Dollop, yang mendapatkan kisah ini dari cucu generasi kedua odu’ oroh bernama Jonidy Apan (40) yang kini menjadi Kepala Adat Punan Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan.
Para anak cucunya pun gempar, dan segera mencari di sekitar pondok. Sosok renta yang sangat mereka cintai itu tak kunjung ditemukan.
“Sampai di bebatuan di pinggir Sungai Magong, mereka melihat selembar berat, yakni tikar khas Punan dari rotan. Di atas berat itu, ada seekor ja’ui atau kodok besar,” ujar Dollop yang juga mantan Ketua Harian Yayasan Adat Punan (YAP) ini.
Memang, ja’ui yang rata-rata bisa mencapai seberat 1 kilogram itu umum ditemukan di hutan sekitar. Tapi kodok besar yang satu ini aneh dan istimewa.
Dia bisa berkata-kata layaknya manusia. Kodok besar itu duduk sambil menangis di atas tikar rotan yang terhampar di bebatuan itu.
“Jangan mencari saya. Inilah saya, adu’ oroh kalian. Saya tidak apa-apa, jangan kalian risau,” begitu ucapan sang kodok kepada sanak keluarga yang panik mencari dirinya.
Sang nenek berpesan, agar anak-cucunya menjaga hutan itu dari kerusakan. Itu sebabnya, masyarakat Punan di situ tak melakukan pola berladang.
Hingga saat ini, masih ada komunitas Dayak Punan yang tinggal di sana dan tetap hidup dengan cara mubut. Lokasi itu persisnya di hutan Marut, Sungai Blusuh, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan.
Dulu, hutan rimba yang masih asli dan kaya keanekaragaman hayati itu mencapai ribuan hektar luasnya. Tetapi kini tinggal tersisa sekitar 50 hektar saja, karena telah “dikepung” konsesi perusahaan kayu maupun kelapa sawit.
“Sudah beberapa kali cucu adu’ oroh mengajak saja ke lokasi itu untuk menjumpai ja’ui itu. Sayang belum pernah terealisasi. Kalau ikut serta cucunya, kita bisa bertemu beliau,” kata Dollop.
Jarak hutan Marut sekira dua hari perjalanan dari Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Kombinasi jalan kaki dan naik perahu kayuh di Sungai Magong, menembus hutan belantara.
Sejumlah bukti kian membuat Dollop yakin dengan kebenaran kisah itu. Sudah berapa karyawan perusahaan dikabarkan hilang, saat melakukan survey di hutan itu. Setelah dicari-cari, jangankan jenazahnya, jejaknya pun sama sekali tak berbekas.
“Makanya sampai sekarang, tinggal tersisa areal hutan Marut itu yang belum berani dirambah orang. Beberapa surveyor mereka hilang tak ada kabarnya. Adu’ oroh tak suka hutan itu dirusak,” kata dia.
Karena legenda itu pula, keturunan adu’ oroh tak boleh mengonsumsi daging kodok itu. Satwa itu memang dikenal memiliki habitat di kawasan tersebut.
Bagi kalangan masyarakat yang tak punya hubungan dengan adu’ oroh, daging ja’ui bisa dijadikan lauk. Asalkan kulit dan tulangnya dipisahkan dulu, sebab mengandung racun.
source: kompas
http://www.ceritadayak.com/2010/10/legenda-dayak-punan-nenek-renta-berubah.html
Legenda Dayak Punan, Nenek Renta Berubah Menjadi Kodok
Suatu hari ada salah seorang keturunan dari Abang Bari (selimbau) menghanyutkan diri mengikuti sungai Kapuas sampai ke Nanga Belitang. Ia bernama bernama Ratu Beringkak, seorang gadis. Saat ditolong oleh masyarakat Mualang, ia menceritakan asal usul purihnya (keturunannya) dan setelah di susun keturunannya, gadis tersebut dianggap sebagai Bangsa Masuka / Suka ( tingkat golongan tinggi atau Purih Raja ), hingga tiada satupun masyarakat lain yang berani mengawininya. Pada saat itu masyarakat Mualang dipimpin oleh Temenggung Saman Tangik, kemudian orang Mualang membawa Ratu Beringkak, ke hulu sungai Belitang, memperkenalkannya kepada seorang pedagang yang menjadi tokoh bagi masyarakat Melayu belitang yang bernama Meriju, oleh Meridju, Ratu Beringkak dijodohkan kepada seorang Mualang, dari Bangsa Masuka / Suka. Setelah pernikahan selesai, Meriju diberi gelar oleh masyarakat Mualang sebagai Kiayi, yakni; Kiyai Madju. Karena statifikasi sosial Dayak Mualang merupakan Bangsa Masuka / Suka dan lebih tinggi dibandingkan dengan suku Dayak maupun Senganan, ataupun suku melayu pedagang yang datang di Belitang maupun di Sekadau, maka orang Mualang tidak mau tunduk kepada peraturan dan perjanjian apapun, demikian juga terhadap Kiayi Madju sekalipun, atas jasanya menikahkan Ratu Beringkak.Hal ini memicu kemarahan Kiayi madju yang akhirnya memobilisasi orang – orang Melayu untuk menyerang Dayak Mualang yang berada dihulu sungai Merian. Dalam peperangan tersebut, orang-orang Melayu dapat dikalahkan, dan dikejar hingga tercerai-berai, sebagian lari hingga ke sungai Mengkiyang Sanggau, sisanya menetap di sekitar Belitang. Orang-orang melayu masih belum puas, mereka mendatangkan empat orang kuat Melayu pada waktu itu disebut Panglima. Terhadap orang – orang Melayu yang tersisa beserta panglimanya tersebut, yang tidak mau pergi, akhirnya Dayak Mualang daerah Belitang, mengundang Dayak Mualang keturunan dari Tampun Juah di Kaki bukit rambat yang bernama; Macan singkuh. Karena Macan Singkut telah tua, maka ia mengutus anaknya yang bernama Singa Uda Letnan, untuk menghadapi sisa –sisa orang Melayu beserta panglimanya. Pertarungan antar orang kuat terjadi yakni empat orang Panglima Melayu melawan seorang Manok Sabung Mualang. Pertarungan ini dilakukan secara sportif. Akhirnya ke empat orang Panglima Melayu tersebut dapat dikalahkan, maka Kiyai Madju dan seluruh orang Melayu dan Panglimanya pergi dan pindah dari daerah Mualang ke Nanga Jungkit, dalam perpindahan tersebut Ratu beringkak ikut serta dan di Nanga Jungkit ia meninggal dunia, tetapi sebelumnya ia minta dikubur di Nanga Ansar. Sampai saat ini Nanga Jungkit dan Nanga Ansar dianggap sebagai tempat keramat.
sumber : Paternus. Ngelala Adat Basa Dayak Mualang. Pontianak: Pemberdayaan Pengelolaan Sumbar Daya Alam Kerakyatan (PPSDAK) Pancur kasih. 2001.
sumber gambar : google.com (Bala Mualang Jeman Tuai 1920)
http://www.ceritadayak.com/2010/10/ratu-beringkak.html




