Archive for 01/24/22

Ilustrasi Burung Enggang Gading

Kisah Penciptaan Menurut Suku Iban


Pada awal mulanya yang ada hanya ada air (laut) asali. Di atas laut asali ini melayang-layang Ara dan Iri, dua keilahian yang mengambil rupa dua ekor burung, laki-laki dan perempuan, jantan dan betina. Secara bersama Ara dan Iri menciptakan dua substansi berbentuk telur raksasa. Dari kedua telur raksasa ini tercipta langit dan bumi [1]. Nama Ara di sini dapat berarti: mengembara, berkelana, keluyuran; pohon ara (sejenis Ficus indicus), menabur atau menyebarkan.


Dalam hubungan antara pohon dengan burung, ada sebuah mitos yang menuturkan tentang Sengalang Burong [2]. Dituturkan tentang seorang bernama Siu yang pergi berburu sepanjang hari tanpa mendapat seekor burungpun. Ketika hari sudah mulai malam ia menemukan sebatang pohon ara liar. Di situ hinggap banyak sekali burung yang belum pernah ia kenal selama ini. Segera ia mengumpulkan burung-burung itu sebanyak mungkin, hampir-hampir tak bisa dipikulnya, dan ia bermaksud datang kembali setelah burung yang dikumpulkannya itu dibawanya pulang. Namun, dalam perjalanan pulang ia tersesat dan akhirnya sampai ke sebuah rumah panjang yang hanya dihuni oleh seorang wanitam puteri Sengalang Burong. Siu diterima dan diwajibkan berjanji untuk tidak menceritakan kepada siapa pun tentang rumah panjang itu, yang adalah miliki Sengalang Burong. Atas perjanjian itu, mereka menjadi suami istri. Putera mereka bernama Seragunting, juga disebut Surong Gunting. Kepada Seragunting inilah kemudian diturunkan oleh Sengalang Burung semua pengetahuan dan cara yang baik berladang, berburu, melaksanakan berbagai upacara pesta adat, mengayau, memahami tanda-tanda dan lain sebagainya. Aturan-aturan inilah yang kemudian diturunkan dan dilaksanakan dengan setia oleh Suku Iban.


Mitos ini memperlihatkan bahwa Sengala Burong itu pemimpin dari semua burung pertanda (pemberi tanda) yang menuntun langkah Siu sampai menemukan ara, kemudian membuat Siu kehilangan orientasinya sampai ia menemukan rumah panjang kediaman Sengalang Burong, lalu menikah dengannya. Dalam hal ini maka pohon ara dilihat sebagai sandi mitologi, yang menandai batas antara dunia hunian manusia dengan dunia para ilahi.


Di dalam banyak mitos suku-suku Dayak, kita menemukan bahwa jalan masuk ke dan jalan keluar dari dunia dilambangkan sebagai sungai atau air dan pohon atau tonggak. Dari mitos tadi, jalan tersebut adalah pohon ara. Pohon ara ini merupakan garis batas. Dari sinilah Siu melangkah, meninggalkan lingkungan manusiawi dan memasuki ilahi, yang dilambangkan pernikahannya dengan puteri Sengalang Burong. Melalui kelahiran Seragunting, dimulailah genealogi makhluk mitis dengan kodrat ilahi, yang dalam garis keturunan selanjutnya melahirkan makhluk mitis dengan kodrat manusiawi sebagai nenek moyang suku Iban. Titik batas antara dunia ilahi dengan dunia roh di dalam mitos ini dilambangkan secara teritorial oleh pohon ara dan secara genealogis oleh tokoh Siu.


Kisah Penciptaan Menurut Suku Dayak Kanayatn


Di dalam salah satu mitos kejadian alam semesta di kalangan suku Kanayatn [3], dikisahkan bahwa pusat alam semesta ini ada sebuah “pusaran air pohon kelapa” (pusat ai’ pauh janggi). Inilah pohon kehidupan, daripadanyalah segala sesuatu tercipta dan kepadanyalah semua akan kembali. Di kalangan suku Kanayatn tampaknya yang memegang peranan penting dalam proses kejadian semesta adalah perkawinan kosmis. Dalam awal turunan sebuah mitos (Vierling, ibid) dikatakan demikian:


Kubah langit dan bulan bumi (kulikng langit dua putar tanah) memperanakkan; Sino Nyandong dan Sino Nyoba, memperanakkan; Si Nyati puteri bulari dan terpaiwar putera matahari (Si Nyati anak Balo Bulant, Tapancar anak Matahari), memperanakkan; Kacau Balau dan Badai (iro iro dan Angin angin)


Dari penuturan awal ini kelihatan dari perkawinan kosmis pertama, yaitu antara langit dan bumi muncullah pasangan selanjutnya, yaitu bulan dan matahari, yang kemudian melalui suatu polarisasi kekerasan melanjutkan proses penciptaan. Dari salah satu rumus doa persembahan dapat ditemukan suatu fragmen yang melukiskan keadaan awal yang serasi antara langit dan bumi. “Padamula pertama bumi itu indah seperti tikar di langit, seperti payung terbuka. Saedo adalah nama bumi dan Saeda nama langit. Bumi pun berguncang dan langit gemetar.” [4]:


Kacau Balau dan Badai, memperanakkan; udara mengawang dan embun menggantung (uang-uang dan Gantong Tali) memperanakkan; Pandai Besi dan Sang Dewi (tukang Nange dua Malaekat) memperanakkan; Segala air dan segala sungai (Sumarakng ai, sumarakng sunge) memperanakkan; Bambu dan Pepohonan (Tunggur batukng dua mara puhutn) memperanakkan; Tumbuhan merambat dan umbi-umbian (Antayut dua Barujut) memperanakkan; Kesejukan Lumpur dan Tulang Iga (popo’ dan rusuk)


Kemudian dalam penuturan sejarah yang lain dijelaskan hawa kesejukkan lumpur itu adalah isteri sedangkan Tulang Iga adalah sang suami. Mereka ini mempunyai anak: Anterber dan Galeber, yang dianggap sebagai nenek moyang suku Kanayatn [5].


Kisah Penciptaan Menurut Suku Dayak Kenyah (Laubscher, 227)


Di kalangan suku Kenyah ada mitos yang menceritakan bahwa ilahi perempuan yang bernama Bungan Malan menciptakan manusia dari Kayu Aran (pohon ara). Kayu Aran tadi baru tercipta menjadi manusia setelah ia dibenihi (dibuntingi) oleh angin yang masuk ke tanaman merambat melalui sebuah torehan pada kayu aran tadi. Dari cerita tradisi ini, kayu aran menjadi lambang kehidupan bagi manusia dan memiliki nama “kayu udiep” (=pohon kehidupan). Dari mitos ini tampak bahwa angin sebagai daya penggerak yang membawa kehamilan pada kayu aran sebagai unsur laki-laki, sedangkan kayu aran sebagai unsur perempuan.


Antara Iban dan Kenyan ada persamaan dalam suatu mitos yang menyangkut Raja Petara [6]. Dalam mitos ini dikisahkan bagaimana Raja Petara (Raja Entala) bersama istrinya menciptakan langit dan bumi dari daki yang melekat di tubuh mereka. Namun rupanya bumi lebih besar daripada langit, sehingga dijadikannya sungai, gunung, bukit, lembat, dataran, lalu ditumbuhkan sayur-sayuran, rumput dan pepohohan. Dikatakan pula bahwa Raja Petara bersama istrinya memiliki pohon pisang yang disebut Pisang Rura. Burong Iri (k) melayang-layang di atas air. Kemudian mereka ini bersatu (kawin)l dari sinilah asal mula segala jenis ikan. Kemudian Raja Petara bersama istrinya membentuk pohon pisang jenis lain dari tongkat akar yang disebut Pisang Bangkit, sepasang manusia menurut gambar mereka. Untuk darah diambilnya getah pohon Kumpang yang memang berwarna merah. Istri Raja Petara berseru kepada ciptaannya ini maka hiduplah mereka. Kedua insan ini, yang laki-laki bernama Telikhu’ dan yang perempuan bernama Telikhai’.


Kalau kita bandingkan Pohon Aran di kalangan Suku Kenyah yang mewakili kodrat perempuan, yang melalui suatu perlakukan seksual dengan angin melahirkan kehidupan, maka Pisang Rura pada suku Iban ini mewakili prinsip laki-laki yang melalui perlakuan seksual dengan Burong Iri melahirkan kehidupan.

Pohon Ara dilihat sebagai asal muasal segala jenis flora, sedangkan Pisang Rura adalah sumber jenis fauna. Memang secara khusus disebut sebagai keturunan Pisang Rura adalah jenis ikan dan tidak disebut-sebut jenis binatang lainnya. Dalam kebudayaan Dayak pada umumnya air atau sungai memegang peranan penting. Hampir di semua suku ada mitos yang menempatkan air atau sungai sebagai unsur penentu dalam suatu peristiwa penciptaan. Sebab itu, penghuni sungai mengambil kedudukan cukup penting.


Raja Petara di dalam mitos lainnya [7] dilihat sebagai yang tertinggi dari dunia ikan, yang memputra putri Pulang Gana dan Rajah Jewata. Di mereka berdua masih terdapat lima bersaudara. Berarti mereka semua ada tujuh bersaudara. Dalam nomor urut, biasanya pertama yang laki-laki ke perempuan, demikian seterusnya secara bergiliran. Yang menarik dalam versi ini ialah yang disebut dengan asal-usul bukanlah yang laki-laki, tetapi perempuan. Hal ini dapat kita lihat:


a)      Putri pertama (anak kedua), Rajah Jewata, asal makhluk air (fauna di bawah)

b)      Putri kedua (anak keempat), Siti Permain, asal dari tumbuh-tumbuhan (flora darat)

c)      Putri ketiga (anak keenam), tanpa nama, asal dari binatang di darat dan udara (fauna di darat dan udara)


Kisah Penciptaan Menurut Suku Dayak Ngaju (Kalimantan Tengah)


Menurut mitos penciptaan Batang Garing [8] dituturkan bahwa pada suatu waktu penguasa alam atas bernama Ranying Mahatara Langit bersama istrinya Jatawang Bulau, penguasa alam bawah, sepakat untuk menciptakan dunia, dengan diawali penciptaan Batanging (pohon kehidupan). Batang, dahan, tangkai, daun, buah-buahan Batang Garing ini semuanya terdiri dari berbagai jenis logam dan batu mulia. Jata kemudian melepaskan burung Tingang betina (Enggang betina) dari sangkar emasnya. Burung itu kemudian terbang, lalu hinggap dan menikmati buah-buahan Batang Garing. Bersama dengan itu, Mahatara melemparkan keris emasnya, lalu menjelma menjadi enggang jantan yang disebut Tembarirang. Tembarirang ini pun hinggap dan menikmati buah-buahan Batang Garing. Kedua burung Tingang lain jenis ini saling iri dan cemburu. Akhirnya terjadi perang suci. Pertempuran maha dasyat ini menghacurkan Batang Garing dan kedua burung itu sendiri. Dari keping-keping kehancuran inilah tercipta kehidupan baru, alam semesta dan segala jenisnya.


Dari kehancuran tadi tercipta pula sepasang insan. Sang wanita bernama “Putri Kahukum Bungking Garing” (Putri dari Kepinagan Garing) dan sang pria bernama “Menyamei Limut Garing Balua Unggon Tingang” (Sari Pohon Kehidupan yang dipatahkan oleh Tingang). Masing-masing insan ini memperoleh perahu: untuk sang wanita perahu brenama Bahtera Emas (Banama Bulau), dan untuk sang pria perahu bernama Bahtera Intan (Banama Hintan). Kedua insan ini kemudian menikah dan mendapatkan keturunan pertama berupa babi, ayam, kucing dan anjing. Keturunan kedua berwujud manusia, yaitu Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen dan Maharaja Buno. Melewati beberapa peristiwa, akhirnya ditetapkan bahwa putra pertama, Maharaja Sangiang menempati alam atas, tinggal berama Ranying Mahatara Langit, dan merupakan asal usul segala Sangiang (Para Dewa). Putra kedua, Maharaja Sangen mendiami suatu daerah bernama Batu Nindan Tarung, yang menjadi sumber segala kepahlawanan. Sedangkan Putra ketiga, Maharaja Buno menempati bumi, dan menjadi moyang pertama manusia.


Sejumlah mitos yang telah dipaparkan secara ringkas memperlihatkan satu raut persamaan yang sangat mencolok, bahwa seluruh proses penciptaan terjadi menurut Perkawinan Kosmis. Prinsip-prinsip maskulin selalu didampingi oleh yang feminin, apakah itu dilambangkan dalam wujud burung, pohon ataupun bulan, matahari dan sebagainya. Di pihak lain, kita menemukan pula suatu sisi yang memperlihatkan proses penciptaan itu terjadi melalui polarisasi, pertentangan ataupun perbenturan: kehidupan – kehancuran kehidupan. Tetapi mitos penciptaan tidak hanya melalui suatu perkawinan kosmik tetapi ada pula yang memperlihatkan tradisi lain. Sebagai contoh kita lihat mitos di kalangan suku Kanayatn [9] yang mengisahkan bahwa suatu ketika Moyang Maha Penguasa bersin maka terciptalah danau/air amutn (embun) dan danau/air duniang. Amutn adalah perempuan dan Duniang adalah laki-laki. Kemudian ia bersin lagi, lalu terjadilah kabut embun (perempuan) dan kerangka daun (laki-laki). Ia bersin-bersin maka terjadilah lautan yang paling indah. Maka terjadilah bahwa kabut embun mengendap di suatu pulau datar dan mengembang menjadi suatu tubuh, sedangkan kerangka daun melekat di sebuah gunung dan mengereas menjadi tulang. Lagi-lagi ia bersin dan terjadilah kesejukan lumpur dan tulang daun, anak-anak perempuan dan anak-anak laki-laki. Di dalam tradisi ini, tidak ditemukan perlakuan seksual antara pasangan. Si Pencipta menjadikan manusia melalui bersin yang maha dahsyat. Dalam mitos ini, penciptaan terbebas dari konsep perkawinan kosmis. Namun yang tercipta itu tetap berada dalam pasangan perempuan dan lelaki.


Foot note:


[1] (Mattias Leubscher. 1977,222)

[2] (Mattias Leubscher. 1977,224-225)

[3] (Herman Vierling. 1990,117)

[4] (Herman Vierling. 1990,208)

[5] (Herman Vierling. 1990,209)

[6] (Mattias Leubscher. 1977,227-229)

[7] (Mattias Leubscher. 1977,Ibid)

[8] (Fridolin Ukur. 1871. 35-37)

[9] (Herman Vierling. 1990,213-214)


Daftar Rujukan:


[1]] Leubscher, Mattias. 1977. Iban und Ngaiu: Kog nitive Studie Zu Konvergenzen in Weltbild und Mythos. Tom Harrison zur Gedaechtenis.

[2] Ukur, Fridolin. 1871. Tantang Jawab Suku Dayak. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 

[3] Vierling, Herman. 1990. Hermeneutik Stammeresreligion, Interkulturelle Komunikation bei den Kendayan, Goetersloher Verlaghaus, Gerd Mohn.


Kisah Penciptaan Alam Semesta Menurut Suku Dayak

Posted by : Fr. Fransesco Agnes Ranubaya, Pr 0 Comments

View Kuburan Dayak Engkadin
ADAT MATI

Kalau urang lawang merintah huluan menyioh

Yang pertame adelah urang di jalanan lanjat locang susol alam, sumpetan kate di buhu tembilaan di punggong bahwe mengatean, urang mati hilang rusak patah, darah pulang ke kumpang napas pulang ke angen.

Setelah diadean lanjat locang susol alam ke wak adi dulor sanak yang berkoetan di kampung laen laman bukan, barok diadean turok himpor bujor pojam, baroklah dirancang lancang rarong lapek alas sarong berangke, setelah jadi lapek alas sarong berangke kerene nye’e Domong, diulahlah ukom katenye besohet mati katenye bepampai, jadi di dalam ukom besohet mati bepampai, kerene nye’e lawang kate merintah kehuluon nye’e menyioh, ke pucok nye’e meulor kebabah nye’e membuat, diulahlah gantang katenye tinggi sifat katenye raye, tajau hondak besopoh koyen hondak beragi.

            Biasenye kalau domong hukom sohet mati pampainye, adelah yang disobot huropannye:

v  3 koti atau tajau sembilan

Uan sengkolan pepalet:

v  Manok burong, tuak tambol, pinggan mangkok, cukop segale sampon semue.

Kerene nye’e lawang merintah huluan menyioh, dengan ketentuan adat hukom sohet mati pampai adelah:

v  3 koti ata tajau sembilan

Ditontuan pade hari malamnye, ditontuan kepade waktunye itulah urang lawang merintah huluan menyioh, udah sampai mayat kate tekubor bangkai kate tepondam, itu jugak maseh diadean uyong unsi 3 hari 3 malam, maseh keluar makan pakai, undang suap, lowok lulu, rompah gangannye, tidak kurang kate sepatah, tidak cupat kate sebigek, itu adelah adat urang mati hilang rusak patah, sobabnye yang lawang merintah hulum menyioh, tetapi kalau urang hanye ke hulu mudik ke hilik undor lawang perintah haluan siohon adatnye adelah Sekuti 5 Lese atau paleng tinggi 2 kuti, itu pon diliat dari ulah gawi tempe jawatan lapek alas sarong perangke ade peringkatnye.

Di dalam sengkolan pepalet manok burong, tuak tambolnye, andai kate lampek alas sarong perangkenye terbuat dari kayu lompong itu hanyelah Manok 5 (lime). Tetapi kalo dari belian sengolan pepaletnye Manok 7 (tujoh), itulah sengkolan pepalet urang mati rusak patah, yang sifatnye urang hanya lawang perintah huluan siohon hulu mudik ke hilik undor.

Akan tetapi walaupon nye’e hanye lawang perintah huluan siohan, hanye galah kate menajak ke pengayoh katenye mengibaran, kalau minum tuhe kayas, mati kene sudah belantek, tidak mati lantaran nye’e saket, sarak lantaran beconggel, itu juga peringkatnye cukop bosar yaitu 9 koti atau 12 buah tajau.

Tetapi sebaleknye kalau nye’e mati kerene dibunoh pangkal, itu ke pisang kate menobang, ke tobu katenye memancap, diulahlah gantang kate tinggi sifat katenye raye, itulah mati dibunoh di pangkal atau yang disobot mati menanggol.

Daftar Rujukan:

[1] Petinggi Adat Dayak Dusun Engkadin, 2019. Adat dan Hukum Adat Dayak Tayap Sekayok Sub Suku Dayak Dusun Engkadin. DAD Tayap: Nanga Tayap

Adat Mati Suku Dayak Engkadin (Bahasa Engkadin)

Posted by : Fr. Fransesco Agnes Ranubaya, Pr 0 Comments

 

Adat Nikah Suku Dayak Engkadin

Adat Menobas Tanah Menube Aek

Yang pertame kita adean adat sapat tohon, tohon betokok musim belipat atau adat sapat tohon, berarti lakau hondak menobas, rumah hondak menajak, yang diadean di bulan 3 (tige/tiga). Setelah diadean ritual ke Duate, kite menalau ke sengiang kite menyorok tanah hondak bepadi lontan hondak bepulot, itu dilaksanean oleh urang yang disobot Belian Duate.

Setelah diadean adat Sapat Tohon yang disobot juga’ labeh seperupak pincong oleh Belian Duate, kemudian diadean memanggor mburongan tanah akai tanah bepadi lontan bepulot, hundang besayang, robong bepucok, aek be’ikan, setelah selosai melaksanean adat Sapat Tohon, baroklah ke kayu kite buleh menobas, ke akar kite buleh memincap, ke kayu buleh menobang, bearti kite menobang menobas, meulah laku hume.

Setolah kemarau panjang solatan beupupot, baroklah kite mencucol meanggor, meadean lakau di ladang, hutan disokat golak api menorak ke rimbe ke ruyon, golak api menorak ke hutan, hutan be sitan, tanah begane, lubang langkang, aek bulan, batu bosar, kruaye tinggi golak jadi barau bahop, barau binase, tanah cade bepadi lontan cade be pulot.

Mencucol kite minte kompos, tugal minte terinsap, baroklah menugal menujak, menugal mematar tanah, memboneh mbilang lubang, kurang pemboneh tulong penugal, kurang penugal tulong pemboneh, setolah cukup umur padi, kurang lobeh sebulan barok kite meadean tobos menyangsang, golak padi kite kene pangau bongas, lomeng kepuyu, hulat karau, kene barau bahop, barau binase, tugal kate dibasok habu dibalek, setolah onan kite menungguan tohon kate tesantang, musim kate temakan, barok kite meadean Adat Makan Tohon.

Di situ kite mematek porang beliong, meonjok hutang membayar duse, tohop kate tesantang, musim kate kite temakan, belakau kite dapat padi, berumah kite buleh rogak, setelah kite melaksanakan adat makan tohon, buat kate kerogak, padi kate kite jurong artinye itu disobot meunjang semangat padi, yaitu akai diburi dolat berokat, akai dimakan tidak tuhu habes, diutek tidak tuhu luak.

Itulah jonjangan adat Belakau Behume Betohon Betongah, ke Lakau kite menobas ke rumah kite menajak.

2.      Adat Menajak Rumah

Ke tihang Menajak, Ke tungkat Merancong.

Saat kite hondak menujak rumah, diulah tampung tawar mate kunyet. Dalam pelaksanean menajak rumah, kite tanam temiang tubuh salah, sengkubak tohek bosi, golak tekene ke hutan besitan, tanah begane, lubang langkang aek bulan, batu bosar kruaye tinggi, golak idok tidak dapat ninde, makan tidak dapat konyang.

Setolah rumah ditajak tihang dirancong, kite adean Adat Menoyeki Rumah, diadean sengkolan pepaleet artinye diadean adat jalan gondar ke titian tajau kete besopoh koyet beragi, kemudian kite adean begondang betaboh memangkong ke tetawak, berareh ke gamalan, memukol ke gondang. Kemudian diadean begolar belangke dan sengkolan pepalet.

Kalau rumah semerge belian songkalannye manok 2 x 7 : 14,  setolah manok dibunoh tampong tawar di ator, barok kite measal belian, asal belian adelah belian tulang tanah lambe langkang ari anggai sidi belian jage belian, urang betinjang bangkai bongkak, urang bediri bangkai mati. Kemudian diadean lagek sengkolan pepalet yaitu rumah dibunoh golaknye menyakit memboji, golakye melaye melepe, baroklah diadean begolar belangke, diulah tomang kiyamber barok besuroh adat jalan gondar ketitian, kepade dukon yang menoyeki rumah/membunoh rumah.

Dengan ukoran Tajau sebuah (1), koyen selambar (1), Beliong seputengan (1), Manok seikok (1), itulah adat menoyeki rumah.

3.      Adat Nikah Kawen Konsal Jadi

Hondak Dipejadi Olay Diperasak, Kayu Bepenyundong Akar Bepelompat, Hondak Urang Due Olay Urang Seurang.

Yang pertame adelah pinte pinang tawar unos, royeh pangkot utek ambek dari sebolah lelaki, jadi diadeanlah sireh behemboyang pinang pinang penggatop, dengan barang pakai anggauan artinye golang, cincin, pupor bincu. Dikumpolanlah kampong sebuah domong manter, sirah dedalah, wali pemili, anak apang, bahwe urang tersebut adelah urang kaye kate bepenyundong akar bepelompai, punye kombang karong bunge mate.

Setolah onan dari pihak kampong, dari pihak domong, bulak dapat membonaran, tabar dapat membisean, kerena nampak sudah besandu, torang sudah besuloh kemudian dipetunangan dan diadeanlah sebuah perjanjian, kalau batal:


v  Dari pihak betine hukumnye                     : Tajau 4 (ompat) buah

v  Dari pihak lelaki hukumnye                      : Tajau 4 (ompat) buah

 

Kalau seandai kate buntak balang kepalang, lancang balek di api.


Yang kedue diadean lagek janji semaye bahwe, nikah kawen onsal jadi, manok kate dimatian, tuak kate ditumpahan, dengan sekian bulan atau sekian ari, sohet gantong paku lantak. Udah pade saatnye urang hondak udah bise dipejadi, urang olay sudah diperasak, diadean manok kate mati tuak kate tumpah, jalan ke rumah, aek ke buket, ke pucok udah bekesamboran, kebabah udah bekelombahan di situ juga diburi sanksi:


v  Kalau membuang dari betine hukumnye Tajau 4 (ompat) buah

v  Kalau membuang dari lelaki hukumnye Tajau 4 (ompat) buah.

 

Kerene ape sebab kate hondak urang 2 (due); olay urang seurang, buloh due kayok mengke bekisel, golang 2 (due) bontok mangke besontek, itulah di urang totak tongah bagi due. Tetapi kalau andai kate nasek licak gangan tabai itu prosesnye adelah lain lagek hukumnye pade yang ditontuan di nikah kawen konsal jadi, itu ade pertimbangan-pertimbangan kusos sesuai uan ape kesalahan dalam rumah tangge.


Begitu jugak di dalam nikah kawen konsal jadi, andai kate urang lontan di kalang powoh dibolah hanyelah sohet seci pakau genggalang, tetapi kalau urang sumbang salah bingkok kilas, yang pertame sumbang hondak diupas, hantuan hontak ditetambei itu meningkat.


Kalau meupas sumbang itu laboh 3 (tige) tohon (laboh seperompak pincong atau laboh 30) uleh belian duate, ke duate menalau ke sengiang menyorok, golak disobabpan kampong sorak tanah botu, tanah cade bepadi lontan cade bepulot sobabpan sumbang salah bingkok kilas, tikang kembali longgak merireng, itu juga sebagai ketontuan adat di dalam melaksanean urang nikah kawen konsal jadi.

Daftar Rujukan:

[1] Petinggi Adat Dayak Dusun Engkadin, 2019. Adat dan Hukum Adat Dayak Tayap Sekayok Sub Suku Dayak Dusun Engkadin. DAD Tayap: Nanga Tayap

Adat Hidup Suku Dayak Engkadin (Bahasa Engkadin)

Posted by : Fr. Fransesco Agnes Ranubaya, Pr 0 Comments

 

Asal usul orang Kengkodian yaitu berasal dari laman Sorot, kemudian pindah ke sungai Tayap. Ada seorang yang disebut Panglime yaitu Rangge Cucoh. Saat akan pergi berperang, Rangge Cucoh yang disebut sebagai urang porang Sanggau yang merupakan nenek moyang orang Kengkodian.

Pada saat itu, ada semacam sayembara atau pemberitaan mengenai peperangan kecil. Orang yang disebut sebagai Panglima Rangge Cucoh tersebut memenangkan sayembara yang diadakan di Sanggau. Selanjutnya, orang Kengkodian kemudian pindah ke Belian Lokoh.

Di sana lahir pula seorang yang disebut sebagai Pang Campoy. Selanjutnya, dua orang tersebut yakni Panglima Cucoh dan Pang Campoy bergabung menjadi satu komunitas. Disebutkan bahwa Cucoh memiliki gelar Rangge Cucoh sementara Campoy bergelar Pang Campoy.

Pang Campoy juga merupakan seorang panglima karena berhasil menumpas pengayau (pencari kepala). Di zaman itu, orang Kengkodian sering diserang pengayau atau orang yang membunuh untuk mencari kepala. Oleh karena Pang Campoy, tidak ada satupun orang Kengkodian yang gugur dalam pertempuran. Malahan, para pengayau tersebut yang habis ditumpas. Maka dari itu, setiap kali Pang Campoy menumpas pengayau, ditaruhnyalah kepala para pengayau itu dan digantung di Belian Kikipan. Hingga saat ini, Belian Kikipan tersebut masih ada dan dapat ditemukan bukti batang beliannya di bagian kiri hulu Sungai Kasai.

Setelah Rangge Cucoh dan Pang Campoy bersatu, orang Kengkodian berpindah kampung halaman ke Tembawang Longkay. Saat itu, orang Kengkodian memiliki pantangan. Sungai Batang Kengkodian tidak bisa atau tidak boleh dituba’ (diracun untuk mencari ikan). Akan tetapi, karena ada kesepakatan dari beberapa orang Kengkodian yang tidak percaya akan pantangan tersebut, dituba’lah Sungai Batang Kengkodian tersebut. Pada saat menuba’, tidak ada satupun ikan yang mati. Yang cukup mengherankan adalah munculnya ular sawa’ yang muncul dari sungai karena keracunan. Maka dari itu, ular sawa’ itu kemudian dijadikan lauk dan disantap oleh semua orang Kengkodian yang saat itu sedang menuba’. Jadi ular sawa’ itu dipukul kepalanya dan dibawa ke Jelapang Jurong. Naasnya, sebanyak orang Kengkodian yang makan ular sawa’ itu, tidak ada satupun yang hidup setelah memakannya.

Syukurnya, masih ada satu keluarga penduduk kampung yang di Lakau. Mereka inilah yang memberi tahu kepada orang kampung bahwa orang-orang Kengkodian tewas setelah memakan ular sawa’ yang telah dituba’ dari Sungai Batang Kengkodian. Sejak saat itu hingga saat ini, Sungai Batang Kengkodian tidak boleh atau dilarang untuk dituba’.

Setelah itu, orang Kengkodian yang tersisa, pindah lagi dari Tembawang Longkay ke Senibung Tanah Tarah Silengan Titi Ganjek (atau sekarang disebut Laman Tuhe). Orang ramai berduyun-duyun menggunakan sampan hingga tiga buah. Semuanya penuh berisikan laki-laki dan perempuan masing-masing tiga puluh orang laki-laki dan tiga puluh orang perempuan.

Selanjutnya, orang Kengkodian pindah kampung lagi ke sebuah tempat yang disebut kampung Tanjung Pandan (Laman Lambat). Sampai sekarang orang Kengkodian hidup bersama, bertempat tinggal di sisi sungai Batang Kengkodian atau Dimare Kasay yang saat ini disebut sebagai Engkadin. Itulah asal usul kampung atau perdukuhan orang Kengkodian sejak dahulu hingga saat ini dari kampung halamannya hingga orang-orangnya.

Daftar Rujukan:

[1] Petinggi Adat Dayak Dusun Engkadin, 2019. Adat dan Hukum Adat Dayak Tayap Sekayok Sub Suku Dayak Dusun Engkadin. DAD Tayap: Nanga Tayap

Asal Usul Orang Engkadin (Kengkodian), Nanga Tayap, Ketapang, Kalbar

Posted by : Frater Fransesco Agnes Ranubaya 0 Comments

- Copyright © DAYAK TALINO - MENEMBUS PERADABAN - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -