Archive for 09/10/17


(Sejarahnya menurut tradisi lisan suku Dayak Desa di Kalimantan Barat)

Saya tergelitik menuliskan kisah lokal ini karena kesimpangsiuran sejarah nusantara, khususnya tentang tokoh besar Kerajaan Majapahit ditanah Jawa yang hingga hari ini tak pernah usai diperbincangkanpara ahli sejarah Indonesia. Bahkan, kabar terbaru, sejarah Gajah Mada dikuak dengan versi yang berbeda dari sebelumnya. 

Tahun 2009, saya bekerja di sebuah perusahaan pertambangan dikawasan jalan Trans Kalimantan ini. Modang, nama kampung itu. Berjarak sekitar 6 Km dari Teraju, ibukota Kecamatan Toba Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Modang salah satu dusun di Desa Bagan Asam. Penduduknya etnik Dayak Desa. Di tengah kampung, terdapat 2 situs penting yang dikeramatkan penduduk setempat: Situs Desa Sembilan Domong Sepuluh dan Situs Tiang bendera Majapahit. Kenapa ada situs tiang bendera Mapajahit di Modang? Berikut cerita rakyat Dayak Desa tentang asal muasal situs itu yang saya rangkum pada tahun 2009 silam. (Yohanes S. Laon)
----------

Mada dikenal sebagai anak lelaki pasangan suami istri Babai Apo dan Dara Jampe, ia adik Cinga (kelak menikah dengan Dara Nante, dan mendirikan Kerajaan Sanggau). Babai adalah gelar kepala suku. Babai Apo adalah kepala suku dayak desa, yang wilayah kekuasaanya dikenal sebagai Loui (Lawai). Menurut tradisi lisan Dayak Desa, negeri Loui melingkupi daerah yang begitu luas yang masing-masing dipimpin oleh seorang pemimpin bergelar Domong. Domong adalah pemimpin yang dikenal arif, bijaksana dan berani. Domong dibantu seorang panglima perang yang bergelar Gajah. Sama halnya di daerah Oha' yang pemimpin rakyatnya bergelar Singa, atau didaerah Jangkang yang pemimpinnya bergelar Macan. 

Suatu hari, ada permufakatan 10 Domong dengan raja untuk melakukan tradisi kayau (head hunting) sekaligus mencari Dara Sanjati, gadis dari kampung Mungguk Kalimantan (sekarang Dusun Mungguk Kemantan) yang diculik musuh dari lautan. Dara Sanjati adalah tunangan Mada. Mada belum boleh diberi gelar Gajah, dan belum boleh menikah karena belum pernah mengayau (berburu kepala musuh). Mendapati gadisnya diculik, marahlah Mada. Ia bertekad bila menemukan gadisnya itu, ia akan membalas dendam dengan memperluas wilayah kekuasaan, bukan hanya di pulau Bakulapura (nama pulau Kalimantan era Imperium Singhasari di Jawa) tetapi juga hingga ke Pulau Hanyut/Pulo Anyut (Tumasik/Singapura sekarang ini).

Dihadapan Babai Apo dan para Domong, Mada kemudian mengusulkan dirinya untuk memimpin pasukannya dari berbagai negeri terdekat untuk mencari Dara Sanjati. Usul ini disetujui Babai dan Domong. Mada pergi ke hulu batangan banyuke (sungai Banyuke) menemui sahabatnya yang bernama Tanding, Nambi dan Nala. Keempatnya kemudian menemui sahabatnya Rumaga di hulu batangan sakayu (Sungai Mempawah). Mada juga menemui sahabatnya Sangen dihulu batangan ambalau (Sungai Ambalau). Setelah dirasa lengkap, Mada dan kawan2nya melakukan ritual "menajah antang", di sebuah batu besar (kini situs Desa Sembilan Domong Sepuluh), Mada dan 40 orang pasukannya berangkat dengan sebuah perahu besar kelaut...pasukannya dikenal dengan Satria Bakulapura. Mada dan pasukannya keluar dari Batangan Kapuhas (Sungai Kapuas) menuju muara laut dan berlayar selama 40 hari 40 malam.
---------
Selama pelayaran dilautan luas itu, banyak pasukan Mada menaklukan musuh dilautan, hingga tiba didaerah pantai yang menjadi kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Dipantai yang penuh darah karena pertempuran pasukannya dengan sekelompok prajurit kerajaan itu, oleh Sangen dan kawan2nya, sesuai tradisi leluhurnya, Mada diangkat sebagai panglima dengan gelar Gajah.

Dipantai inipula, Gajah Mada berkenalan dengan seorang pemuda pendiam, bernama Mauli. Pun, Gajah Mada memperhatikan, selama pertempuran itu, sang pemuda ini hanya melihat dikejauhan. Setelah pertempuran, dan semua kepala prajurit kerajaan itu dipenggal kepalanya oleh Gajah Mada dan pasukannya dan dibawa ke kapal, oleh pemuda itu, Mada dibawa kerumahnya. Tak dinyana, ia seorang raja, bergelar Srimat srivhuwanaraja mauli warmadewa, raja Sriwijaya. Di istana, Gajah Mada diperkenalkan dengan anak-anaknya, seorang bernama Dara Petak dan seorang lagi bernama Dara Sanjati (dikenal dengan Dara Jingga). Gajah Mada dan pasukannya diperlakukan dengan sangat baik oleh istana, apalagi ketakutan raja yang mengetahui bahwa seorang anak angkatnya ternyata kekasih Gajah Mada dari negeri Bakulapura itu. Suatu hari, kerajaan mendapat serangan dari tanah Jawa. Kerajaan nyaris dihancurkan, oleh karenanya raja mengirim kedua putrinya untuk dibawa ke tanah jawa sebagai bentuk persahabatan. Raja meminta Gajah Mada dan pasukannya mengawal dua putri raja tersebut bersama dengan rombongan dari tanah jawa. 

Setibanya di tanah jawa, kerajaaan Singasari sudah runtuh, dan raja tewas karena pemberontakan. Namun, telah berdiri kerajaan baru bernama Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya. Raden Wijaya kemudian memperistri Dara Petak yang kelak melahirkan Jayanegara, sedangkan kekasih Gajah Mada diperistri Mahapatih Dyah Adwajabhram yang kelak melahirkan Adityawarman, Raja Sriwijaya. Di istana Majapahit, Gajah Mada tetap diangkat sebagai prajurit pengawal raja dan keluarganya. Karena jiwa kepemimpinan dan keberaniannya, Mada pernah diangkat sebagai Patih di Doha dan Kahuripan. Ketika terjadi pemberontakan Rakuti, Rumaga, yang di Majapahit dikenal sebagai Rasidi ikut memberontak. Rumaga ini seorang prajurit Gajah Mada yang dibawanya dari Bakulapura. Gajah Mada kemudian meminta Rasidi kembali saja ke Bakulapura, yang pada masa itu disebutnya sebagai Tanjungnegara. Radisi ikut perintah Gajah Mada dan setibanya di kampungnya yang bernama Pakana, ia melanjutkan kepemimpinan ayahnya sebagai raja dengan gelar Patih. Kerajaan itu bernama Bangkule Rajakng, hulu Batangan Mampawah (Sungai Mempawah). 

Di Bangkule Rajakng, Gumantar, anak Patih Rumaga dikirim ayahnya ke Majapahit menemui Gajah Mada. Gumantar muda ini sangat tangkas dan berani. Karena kehebatannya ini, Gumantar kemudian diangkat Mada sebagai bekel, kepala regu prajurit Bhayangkara, pasukan pengawal raja dan keluarganya. 

Pada masa raja Tribuwana Wijaya Tunggadewi, Mada diangkat menjadi Maha Patih Amangkubhumi Majapahit, menggantikan Arya Tadah. Pada pelantikannya, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang dikenal dengan Amukti Palapa atau Sumpah Palapa. Sejak sumpah itu, berturut-turut berbagai negara di nusantara ditaklukan Mada dan pasukannya. Bersama Tanding dan Nala (pasukan Mada dari negeri Banyuke), mereka menaklukan negeri-negeri Siam, Malaya hingga Tumasik. Hanya ada dua negeri yang belum ditaklukan, Madura dan Sunda, karena keduanya memiliki ikatan khusus dengan Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Ambisi politik Gajah Mada mengingkari janji pendiri negeri, sebab ia lebih percaya sumpah. Bersamaan dengan lamaran raja Hayam Wuruk kepada Dyah Pitaloka Citraresmi, putri sunda, Gajah Mada dan pasukannya membunuhi semua prajurit kerajaan, termasuk raja. Sang putri, calon mempelai raja Hayam Wuruk juga bunuh diri. Tindakan Gajah Mada yang haus darah ini dianggap aib bagi kerajaan. Ia kemudian dipersalahkan, terutama oleh musuh-musuhnya. 

GAJAH MADA KEMBALI KE KALIMANTAN
Pasca perang yang dikenal dengan Perang Bubat itu, Gajah Mada kemudian lebih banyak menyendiri dirumahnya dilereng gunung Bromo. Ia merasa bersalah kepada raja. Ia memerintahkan semua pasukannya untuk kembali ke negeri asal masing-masing. Gumantar misalnya, ia kembali ke Bangkule Rajakng dan menjadi raja menggantikan ayahnya dengan gelar Patih Gumantar. Oleh Gajah Mada, Gumantar dibekali sebilas keris bernama keris susuhunan. Demikian pula Tanding, dan Nambi, keduanya kembali ke negeri Banyuke dan mendirikan kerajaan baru bernama Jarikng dihulu sungai banyuke. Sepeninggal prajurit utamanya, Mada kemudian kembali keberbagai daerah yang pernah ditaklukannya untuk meminta maaf, setelah semua pewaris kerajaan itu dijumpainya, ia kembali ke tanah leluhurnya, Bagan Asam. Ditempat inilah, Gajah Mada beristirahat. Ia disambut sukacita warga, dan pemimpin rakyat diwilayah Desa Sembilan Domong Sepuluh. Sebagai tanda perjanjiannya bahwa ia telah kembali, Gajah Mada menancapkan sebuah panji majapahit di Modang (berbentuk tiang bendera/kini terletak di Dusun Modang Desa Bagan Asam Kec.Toba kab.Sanggau) Ia kemudian memutuskan bertapa di sebuah bukit batu, yang kini dikenal sebagai Bukit Batu Daya (Kec.Simpang Hulu, Kab.Ketapang).

GAJAH MADA: Orang Dayak Yang Mengayau Ke Tanah Jawa

Posted by : Frater Fransesco Agnes Ranubaya 2 Comments
Tag : ,

- Copyright © DAYAK TALINO - MENEMBUS PERADABAN - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -