Archive for 06/07/13


Jika kita menyusuri Sungai Kapuas dari kota Pontianak menuju kota Sanggau, di antara kota Tayan dan kota  Sanggau kita akan melewati dua buah pulau yang berjejer di tengah Sungai Kapuas. Bentuk kedua pulau itu menyerupai dua buah kapal yang sedang berlomba. Oleh karena itu, penduduk menamai kedua pulau ini Pulau Belumbak. Belumbak dalam bahasa daerah pedalaman Kalimantan Barat berarti “berlomba”.


Menurut cerita para leluhur, kedua pulau itu asalnya dari dua buah kapal milik dua bersaudara. Pada zaman dahulu, di tempat kedua pulau itu berada, terdapat sebuah kota. Walaupun kota itu tidak begitu besar, penduduknya cukup banyak dan ramai. Di pinggiran kota itu hiduplah seorang janda miskin dengan dua orang anak laki-lakinya. Ayah mereka telah meninggal dunia. Tiap hari mereka hanya mencari kayu bakar yang mereka jual kepada orang kampung demi sesuap nasi. Dari tahun ke tahun, mereka menjalani kehidupan semacam itu hingga kedua anak itu tumbuh menjadi dewasa.

Ketika kedua anak itu telah menginjak dewasa, timbullah keinginan mereka untuk merantau ke negeri seberang. Mereka ingin mengadu nasib di perantauan dengan harapan nasibnya dapat berubah. Sang ibu berat sekali melepaskan kedua anaknya. Akan tetapi, keinginan kedua anaknya tidak dapat dihalangi. Akhirnya, sang ibu terpaksa mengabulkan keberangkatan kedua anaknya itu. Dua ekor anak ayam jantan yang menjadi milik kedua anak itu dititipkan kepada ibunya agar dipelihara sampai mereka kembali.

Kedua bersaudara itu hanya menumpang sebuah kapal dagang yang datang ke kota itu. Untuk sementara, mereka menjadi kuli di kapal itu. Ibunya hanya dapat membekali mereka dengan ketupat nasi masing-masing tiga buah. Namun sang ibu mengiringi kedua anaknya dengan doa agar mereka selamat di perantauan dan berhasil mencapai cita-cita mereka.

Hari berganti bulan dan bulan pun berganti tahun. Entah berapa purnama telah berlalu, sang ibu masih tetap menunggu kedatangan kedua anaknya. Usianya semakin tua dan rambutnya pun semakin banyak yang memutih. Tenaganya semakin berkurang karena ketuaannya dan ia pun sering sakit-sakitan. Namun, ia tetap bekerja menurut kemampuannya demi sesuap nasi.

Di perantauan, kedua kakak beradik itu berhasil menjadi orang yang kaya raya. Keduanya telah memiliki sebuah kapal yang cukup besar dan bagus. Keduanya memiliki para pekerja dan pengiring. Keduanya pun memiliki istri yang cantik sekali.

Setelah beberapa lama merantau, timbul hasrat kedua bersaudara itu untuk kembali ke kampung halamannya  di Kalimantan Barat. Kedua kapal kakak beradik itu berlayar menuju Kalimantan Barat. Setelah beberapa lama berlayar, sampailah mereka di pesisir Kalimantan Barat dan langsung menyusuri Sungai Kapuas. Akhirnya kedua kapal itu tiba di wilayah Sanggau dan berlabuh ditengah Sungai Kapuas.

Ibu mereka yang sudah tua mendengar bahwa yang datang adalah kedua anaknya, maka dengan tertatih-tatih ia naik perahu sambil membawa ubi rebus dan dua ekor ayam jantan.

Ketika wanita tua itu tiba di kapal anaknya yang sulung, ia tidak diakui sebagai ibu oleh anaknya. Si Sulung merasa malu beribukan wanita miskin lagi buruk itu, malu kepada istri dan bawahannya.

Ketika sang Ibu ingin memeluk karena rindu. Ia menolak dengan ucapan kasar, “Hai orang tua buruk lagi melarat. Apakah kau sudah gila, kau bukan ibuku. Ibuku sudah lama meninggal. Cepat pergi dari sini!”

“Anakku mengapa kau melupakanku.” kata wanita itu. “Aku ini ibumu, lihat ayam jantan kecil ketika kalian berangkat.”

Mendengar ucapan itu, kemarahan anaknya makin menjadi-jadi. Ibunya ditendang dengan keras hingga jatuh  tersungkur dan pingsan. Lama ia tak sadarkan diri.

Setelah siuman ia berjalan menuju kapal anaknya yang lain. Ia berharap akan mendapat perlakuan yang baik dari anak bungsunya. Tetapi di kapal anaknya yang bungsu, ia mendapat perlakuan yang lebih kejam. Matanya ditusuk dengan tongkat sehingga menjadi buta.

Orang tua itu menangis, lalu pulang. Sedih hatinya mendapat perlakuan yang menyakitkan dari kedua anaknya itu. Akan tetapi, kesedihan itu menjadi sebuah kebencian.

Ibu tua itu membuat sebuah pedupaan di rumahnya. Pedupaan yang sedang berasap itu ditaruhnya di lubang lesung. Kemudian ia naik ke atas lesung itu. Sambil menggucangkan susu kiri dan susu kanannya, ia berseru, “Ya Tuhan. kedua anak kandungku telah durhaka kepada ibunya. Apakah benar mereka itu bukan anakku?”

Sambil terus mengguncangkan kedua susunya, ibu tua itu berseru lagi, “Kalau mereka itu benar anakku dan mereka meminum air susu ini, timpakanlah bala bencana atas mereka.”

Tidak lama setelah ibu tua itu mengucapkan kata-katanya yang terakhir, angin mulai bertiup. Mula-mula perlahan, makin lama makin kencang. Dilangit awan hitam semakin menebal. Tidak lama kemudian, langit menjadi gelap gulita. Angin menderu dan mendesing disertai kilat dan petir yang sambung-menyambung. Bunyi guruh menggelegar seperti membelah bumi. Tiba-tiba datang angin putar yang disebut angin puting beliung. Angin itu menerpa kapal milik kedua bersaudara yang berada di tengah Sungai Kapuas. Tiang-tiang layarnya rusak dan patah. Angin putting beliung datang berulang-ulang. Kedua kapal itu miring, lalu terangkat ke atas, dan tarhempas ke air tanpa ampun. Akhirnya, kedua kapal itu tenggelam dan tidak seorang pun selamat. Harta benda di kapal itu semuanya musnah. Sebelum kedua kapal itu tenggelam, kedua anak durhaka itu berteriak minta ampun kepada ibunya. Akan tetapi, hal itu sudah terlambat. Kutukan Tuhan telah  berlaku atas mereka.

Setelah kedua kapal itu tenggelam, angin mulai mereda. Langit sedikit demi sedikit kembali cerah. Akhirnya, cuaca kembali terang. Angin berhembus perlahan-lahan, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Beberapa tahun kemudian, muncullah dua buah pulau yang bentuknya menyerupai kapal yang sedang berlomba. Kedua pulau itu berada di tengah Sungai Kapuas. Oleh karena itu, kedua pulau itu oleh penduduk setempat dinamakan Pulau Belumbak atau Pulau Berlomba.

Kita tidak boleh durhaka terhadap kedua orang tua kita. Orang yang durhaka kepada orang tuanya dan belum mendapat maaf darinya maka ia akan mendapat bencana baik di dunia maupun akhirat. Dikutuk oleh Tuhan, seperti halnya kedua bersaudara dalam cerita ini.

Pulau Belumbak

Posted by : Frater Fransesco Agnes Ranubaya 0 Comments

Konon pada zaman dahulu di daerah Kabupaten Sambas (Kalimantan Barat), tepatnya di pedalaman benua Bantahan sebelah Timur Kota Sekura Ibukota Kecamatan Teluk Keramat yang dihuni oleh Suku Dayak, telah terjadi peristiwa yang sangat menakjubkan untuk diketahui dan menarik untuk dikaji, sehingga peristiwa itu diangkat ke permukaan.


Menurut informasi orang bahwa di daerah tersebut terdapat sebuah kerajaan yang kecil, letaknya tidak jauh dari Gunung Bawang yang berdampingan dengan Gunung Ruai. Tidak jauh dari kedua gunung dimaksud terdapatlah sebuah gua yang bernama “Gua Batu”, di dalamnya terdapat banyak aliran sungai kecil yang di dalamnya terdapat banyak ikan dan gua tersebut dihuni oleh seorang kakek tua renta yang boleh dikatakan sakti.

Cerita dimulai dengan seorang raja yang memerintah pada kerajaan di atas dan mempunyai tujuh orang putri, raja itu tidak mempunyai istri lagi sejak meninggalnya permaisuri atau ibu dari ketujuh orang putrinya. Di antara ketujuh orang putri tersebut ada satu orang putri raja yang bungsu atau Si Bungsu. Si Bungsu mempunyai budi pekerti yang baik, rajin, suka menolong dan taat pada orang tua, oleh karena itu tidak heran sang ayah sangat menyayanginya. Lain pula halnya dengan keenam kakak-kakaknya, perilakunya sangat berbeda jauh dengan Si Bungsu, keenam kakaknya mempunyai hati yang jahat, iri hati, dengki, suka membantah orang tua, dan malas bekerja. Setiap hari yang dikerjakannya hanya bermain-main saja.

Dengan kedua latar belakang inilah, maka sang ayah (raja) menjadi pilih kasih terhadap putri-putrinya. Hampir setiap hari keenam kakak Si Bungsu dimarah oleh ayahnya, sedangkan Si Bungsu sangat dimanjakannya. Melihat perlakuan inilah maka keenam kakak Si Bungsu menjadi dendam, bahkan benci terhadap adik kandungnya sendiri, maka bila ayahnya tidak ada di tempat, sasaran sang kakak adalah melampiaskan dendam kepada Si Bungsu dengan memukul habis-habisan tanpa ada rasa kasihan sehingga tubuh Si Bungsu menjadi kebiru-biruan dan karena takut dipukuli lagi Si Bungsu menjadi takut dengan kakaknya.

Untuk itu segala hal yang diperintahkan kakaknya mau tidak mau Si Bungsu harus menurut seperti: mencuci pakaian kakaknya, membersihkan rumah dan halaman, memasak, mencuci piring, bahkan yang paling mengerikan lagi, Si Bungsu biasa disuruh untuk mendatangkan beberapa orang taruna muda untuk teman/menemani kakaknya yang enam orang tadi. Semua pekerjaan hanya dikerjakan Si Bungsu sendirian sementara ke enam orang kakaknya hanya bersenda gurau saja.

Sekali waktu pernah akibat perlakuan keenam kakaknya itu terhadap Si Bungsu diketahui oleh sang raja (ayah) dengan melihat badan (tubuh) Si Bungsu yang biru karena habis dipukul tetapi takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada sang ayah, dan bila sang ayah menanyakan peristiwa yang menimpa Si Bungsu kepada keenam kakaknya maka keenam orang kakaknya tersebut membuat alasan-alasan yang menjadikan sang ayah percaya seratus persen bahwa tidak terjadi apa-apa. Salah satu yang dibuat alasan sang kakak adalah sebab badan Si Bungsu biru karena Si Bungsu mencuri pepaya tetangga, kemudian ketahuan dan dipukul oleh tetangga tersebut. Karena terlalu percayanya sang ayah terhadap cerita dari sang kakak maka sang ayah tidak memperpanjang permasalahan dimaksud.

Begitulah kehidupan Si Bungsu yang dialami bersama keenam kakaknya, meskipun demikian Si Bungsu masih bersikap tidak menghadapi perlakuan keenam kakaknya, kadang-kadang Si Bungsu menangis tersedu-sedu menyesali dirinya mengapa ibunya begitu cepat meninggalkannya. sehingga ia tidak dapat memperoleh perlindungan. Untuk perlindungan dari sang ayah boleh dikatakan masih sangat kurang. Karena ayahnya sibuk dengan urusan kerajaan dan urusan pemerintahan.
Setelah mengalami hari-hari yang penuh kesengsaraan, maka pada suatu hari berkumpullah seluruh penghuni istana untuk mendengarkan berita bahwa sang raja akan berangkat ke kerajaan lain untuk lebih mempererat hubungan kekerabatan diantara mereka selama satu bulan. Ketujuh anak (putrinya) tidak ketinggalan untuk mendengarkan berita tentang kepergian ayahnya tersebut. Pada pertemuan itu pulalah diumumkan bahwa kekuasaan sang raja selama satu bulan itu dilimpahkan kepada Si Bungsu, yang penting bila sang raja tidak ada di tempat, maka masalah-masalah yang berhubungan dengan kerajaan (pemerintahan) harus mohon (minta) petunjuk terlebih dahulu dari Si Bungsu. Mendengar berita itu, keenam kakaknya terkejut dan timbul niat masing-masing di dalam hati kakaknya untuk melampiaskan rasa dengkinya, bila sang ayah sudah berangkat nanti. Serta timbul dalam hati masing-masing kakaknya mengapa kepercayaan ayahnya dilimpahkan kepada Si Bungsu bukan kepada mereka.

Para prajurit berdamping dalam keberangkatan sang raja sangat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Maka pada keesokan harinya berangkatlah pasukan sang raja dengan bendera dan kuda yang disaksikan oleh seluruh rakyat kerajaan dan dilepas oleh ketujuh orang putrinya.

Keberangkatan sang ayah sudah berlangsung satu minggu yang lewat. Maka tibalah saatnya yaitu saat-saat yang dinantikan oleh keenam kakaknya Si Bungsu untuk melampiaskan nafsu jahatnya yaitu ingin memusnahkan Si Bungsu supaya jangan tinggal bersama lagi dan bila perlu Si Bungsu harus dibunuh. Tanda-tanda ini diketahui oleh Si Bungsu lewat mimpinya yang ingin dibunuh oleh kakanya pada waktu tidur di malam hari.

Setelah mengadakan perundingan di antara keenam kakaknya dan rencanapun sudah matang, maka pada suatu siang keenam kakak di bungsu tersebut memanggil Si Bungsu, apakah yang dilakukannya?. Ternyata keenam kakanya mengajak Si Bungsu untuk mencari ikan (menangguk) yang di dalam bahasa Melayu Sambas mencari ikan dengan alat yang dinamakan tangguk yang dibuat dari rotan dan bentuknya seperti bujur telur (oval). Karena sangat gembira bahwa kakaknya mau berteman lagi dengannya, lalu Si Bungsu menerima ajakan tersebut. Padahal dalam ajakan tersebut terselip sebuah balas dendam kakaknya terhadap Si Bungsu, tetapi Si Bungsu tidak menduga hal itu sama sekali.

Tanpa berpikir panjang lagi maka berangkatlah ketujuh orang putri raja tersebut pada siang itu, dengan masing-masing membawa tangguk dan sampailah mereka bertujuh di tempat yang akan mereka tuju (lokasi menangguk), yaitu gua batu, Si Bungsu disuruh masuk terlebih dahulu ke dalam gua, baru diikuti oleh keenam  kakaknya. Setelah mereka masuk, Si Bungsu disuruh berpisah dalam menangguk ikan supaya mendapat lebih banyak dan ia tidak tahu bahwa ia tertinggal jauh dengan kakak-kakanya.

Si Bungsu sudah berada lebih jauh ke dalam gua, sedangkan keenam kakaknya masih saja berada di muka gua dan mendoakan supaya Si Bungsu tidak dapat menemukan jejak untuk pulang nantinya. Keenam kakaknya tertawa terbahak-bahak sebab Si Bungsu telah hilang dari penglihatan. Suasana gua yang gelap gulita membuat Si Bungsu menjadi betul-betul kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari gua itu. Tidak lama kemudian keenam kakaknya pulang dari gua batu menuju rumahnya tanpa membawa Si Bungsu dan pada akhirnya Si Bungsu pun tersesat.

Merasa bahwa Si Bungsu telah dipermainkan oleh kakaknya tadi, maka tinggallah ia seorang diri di dalam gua batu tersebut dan duduk bersimpuh di atas batu pada aliran sungai dalam gua untuk meratapi nasibnya yang telah diperdayakan oleh keenam kakaknya, Si Bungsu hanya dapat menangis siang dan malam sebab tidak ada satupun makhluk yang dapat menolong dalam gua itu kecuali keadaan yang gelap gulita serta ikan yang berenang kesana kemari.

Bagaimana nasib Si Bungsu? tanpa terasa Si Bungsu berada dalam gua itu sudah tujuh hari tujuh malam lamanya, namun ia masih belum bisa untuk pulang, tepatnya pada hari ketujuh Si Bungsu berada di dalam gua itu, tanpa disangka-sangka terjadilah peristiwa yang sangat menakutkan di dalam gua batu itu, suara gemuruh menggelegar-gelegar sepertinya ingin merobohkan gua batu tersebut, Si Bungsu pun hanya bisa menangis dan menjerit-jerit untuk menahan rasa ketakutannya, maka pada saat itu dengan disertai bunyi yang menggelegar muncullah seorang kakek tua renta yang sakti dan berada tepat di hadapan Si Bungsu, lalu Si Bungsu pun terkejut melihatnya, tak lama kemudian kakek itu berkata,” Sedang apa kamu disini cucuku?”, lalu Si Bungsu pun menjawab,” Hamba ditinggalkan oleh kakak-kakak hamba, kek!”, maka Si Bungsu pun menangis ketakutan sehingga air matanya tidak berhenti keluar, tanpa diduga-duga pada saat itu dengan kesaktian kakek tersebut titik-titik air mata Si Bungsu secara perlahan-lahan berubah menjadi telur-telur putih yang besar dan banyak jumlahnya, kemudian Si Bungsu pun telah diubah bentuknya oleh si kakek sakti menjadi seekor burung yang indah bulu-bulunya. Si Bungsu masih bisa berbicara seperti manusia pada saat itu, lalu kakek itu berkata lagi, “Cucuku aku akan menolong kamu dari kesengsaraan yang menimpa hidupmu tapi dengan cara engkau telah kuubah bentukmu menjadi seekor burung dan kamu akan aku beri nama Burung Ruai, apabila aku telah hilang dari pandanganmu maka eramlah telur-telur itu supaya jadi burung-burung sebagai temanmu!”. Kemudian secara spontanitas Si Bungsu telah berubah menjadi seekor burung dengan menjawab pembicaraan kakek sakti itu dengan jawaban kwek … kwek … kwek … kwek …. kwek, Bersamaan dengan itu kakek sakti itu menghilang bersama asap dan burung ruai yang sangat banyak jumlahnya dan pada saat itu pula burung-burung itu pergi meninggalkan gua dan hidup di pohon depan tempat tinggal Si Bungsu dahulu, dengan bersuara kwek … kwek …. kwek … kwek …. kwek, Mereka menyaksikan kakak-kakak Si Bungsu yang dihukum oleh ayahnya karena telah membunuh Si Bungsu.

Asal Usul Burung Ruai

Posted by : Frater Fransesco Agnes Ranubaya 0 Comments

- Copyright © DAYAK TALINO - MENEMBUS PERADABAN - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -